Sejarah Qurban

Sejarah Qurban:

http://fridayanabaabullah.files.wordpress.com/2011/02/ibadahkurban.jpg

Dan bagi
tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya
mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah
direzkikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa,
karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. dan berilah kabar gembira
kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)
. (Al Hajj: 34).

1.
Qurban Di masa Nabi Adam As.


"Ceritakanlah kepada mereka
kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya,
ketika keduanya mempersembahkan qurban, Maka diterima dari salah seorang
dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil).
ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". berkata Habil:
"Sesungguhnya Allah hanya menerima (qurban) dari orang-orang yang
bertakwa".
(Al Maidah: 27).



Allâh memerintah Adam agar mengawinkan Qabil dengan saudara perempuan kembar Habil yang bernama
Lubuda yang tidak bagus rupa, dan mengawinkan Habil dengan saudara
perempuan kembar Qabil yang
bernama Iqlima yang cantik rupa. Pada saat itu Adam dilarang Allâh
mengawinkan perempuan kepada saudara laki-lakinya yang kembar. Namun Qabil menolak hal ini,
sementara Habil menerima.
Qabil ingin kawin
dengan saudara perempuan kembarnya sendiri yang cantik rupa. Maka Adam
menyuruh kedua anaknya untuk berqurban, siapa yang diterima qurbannya,
itu yang menjadi suami bagi saudara perempuan kembar Qabil yang cantik

Kemudian
kedua anak Adam itu berqurban, Habîl adalah seorang peternak kambing dan ia
berqurban denganKambing Qibas yang berwarna putih, matanya
bundar dan bertanduk mulus, dan berqurban dengan jiwa yang bersih. Dan
Qabil adalah tukang
bercocok tanam, Ia berqurban dengan makanan yang jelek, dan niat yang
tidak baik. Maka diterima qurbannya Habil dan tidak diterima qurbannya Qabil. Dan qurban-qurban
itu diletakkan di sebuah gunung dan tanda diterimanya qurban itu ialah
dengan datangnya api dari langit lalu membakarnya. Dan ternyata api
menyambar Kambing Qibas qurbannya Habil, sebagai tanda
diterima qurbannya. Melihat hal demikian Qabil marah, dan membunuh saudaranya.



2.
Qurban di masa Nabi Idris As.


Disunnahkan kepada kaum
Nabi Idris As yang taat kepadanya antara lain; beragama Allâh,
bertauhid, ibadah kepada khaliq, membersihkan jiwa dari siksa akhirat
dengan cara beramal shalih di dunia, bersifat Zuhud, adil, puasa pada
hari yang ditentukan pada tiap bulan, berjihad, berzakat dan sebagainya.
Dan bagi kaum Idris ditetapkan hari-hari raya pada waktu-waktu yang
tertentu, serta berqurban; di antaranya saat terbenam matahari ke ufuk
dan saat melihat hilal. Mereka diperintah berqurban antara lain dengan al-Bakhûr
(dupa atau wangi-wangian), al-Dzabâih (sembelihan), al-Rayyâhîn
(tumbuhan-tumbuhan yang harum baunya), di antaranya al-Wardu
(bunga ros), dan al-hubûb biji-bijian, seperti al-Hinthah (biji
gandum), dan juga berqurban dengan al-Fawâkih (buah-buahan),
seperti al-'Inab (buah anggur).



3. Qurban
di masa Nabi Nuh As.


sesudah terjadi taufan (banjir)
Nûh, Nabi Nûh As membuat tempat yang sengaja dan tertentu untuk
meletakkan qurban, yang nantinya qurban tersebut sesudah diletakkan di
tempat tadi dibakar.



4. Qurban di masa Nabi
Ibrohim As.


Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa usia
Ismail sekitar 6 atau 7 tahun. Sejak dilahirkan sampai sebesar itu Nabi
Ismail senantiasa menjadi anak kesayangan. Tiba-tiba Allah memberi ujian
kepadanya, sebagaimana firman Allah dalam surat Ash-Shaffaat: 102 :

"Maka ketika sampai (pada usia
sanggup atau cukup) berusaha, Ibrahim berkata: Hai anakku aku melihat
(bermimpi) dalam tidur bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah
bagaimana pendapatmu" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar".



Kambing Qibas


Kambing Qibas

Dalam mimpinya, Ibrahim mendapat perintah dari Allah
supaya menyembelih putranya Nabi Ismail. Ketika sampai di Mina, Ibrahim
menginap dan bermimpi lagi dengan mimpi yang sama. Demikian juga ketika
di Arafah, malamnya di Mina, Ibrahim bermimpi lagi dengan mimpi yang
tidak berbeda pula. Ibrahim kemudian mengajak putranya, Ismail, berjalan
meninggalkan tempat tinggalnya, Mina. Baru saja Ibrahim berjalan
meninggalkan rumah, syaitan menggoda Siti Hajar: "Hai Hajar! Apakah
benar suamimu yang membawa parang akan menyembelih anakmu Ismail?".
Akhirnya Siti Hajar, sambil berteriak-teriak: "Ya Ibrahim, ya Ibrahim
mau diapakan anakku?" Tapi Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah
Allah SWT tersebut.

Setibanya di Jabal Qurban, sekitar 200 meter
dari tempat tinggalnya. Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah untuk
menyembelih Ismail. Rencana itu pun berubah drastis, sebagaimana
difirmankan oleh Allah dalam surat Ash-Shaffaat ayat 103-107:

"Tatkala keduanya telah
berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya, nyatalah
kesabaran keduanya. Dan Kami panggillah Dia: "Hai Ibrohim, "Kamu telah
membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan
kepada orang yang berbuat baik". Sesungguhnya ini benar-benar suatu
ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang
besar ".


5. Qurban di masa Nabi Musa As.

Penyembelihan
qurban berlaku hingga zaman Nabi Musa As. Nabi Musa membagi binatang
yang disediakan untuk qurban kepada dua bagian, sebagian dilepaskan saja
dan dibiarkan berkeliaran sesudah di beri tanda yang diperlukan. Dan
sebagian lagi disembelih.

6. Qurban Bani Isroil.

Ummat
dulu sebelum kita, jika seorang dari mereka berqurban, orang-orang
keluar menyaksikan apakah qurban mereka itu diterima atau tidak. Jika
diterima datang api putih (Baidhâ`u) dari langit membakar apa
yang diqurbankan. Jika qurbannya tidak diterima, api itu tidak muncul.
Dan rupa api itu Lâ dukhâna lahâ wa lahâ dawiyun (api yang
tidak berasap dan berbunyi). Dan bila seorang laki-laki dari mereka
(Bani Isrâ'îl) bershadaqah, jika diterima turun api dari langit, lalu
membakar apa yang mereka sodaqohkan.

7. Qurban di masa
Nabi zakaria As dan Nabi Yahya As.


Nabi Zakaria As dan
Nabi Yahya As adalah di antara nabi dan rosul dari Bani Isroil, pada
keduanya ada qurban. Dan qurbannya adalah binatang dan Amti'atun (barang-barang)
lalu di bakar api.

8. Qurban Pada Bangsa Yahudi dan
Nashrani


Bangsa Yahudi merupakan sebagian dari bani
Isrâ'îl. Sementara Bani Isrâ'îl adalah keturunan Nabi Ya'qub As. Nabi
Ya'kub bergelar, Isrâ'îl. Pada bangsa Yahudi terdapat qurban
yang biasa mereka lakukan demikian juga pada bangsa Nashrani. Qurban
pada bangsa Yahudi dan bangsa Nashrani, yaitu melakukan pengurbanan
dengan membakar sebagai sesaji yang bertujuan mengingat-ingat kesalahan,
yaitu dengan menyembelih sapi dan kambing jantan yang mulus, tidak
cacat. Dengan menghidangkan: tepung, minyak dan susu. Qurban karena
adanya ketentraman, sebagai rasa syukur kepada al-Rabb . Qurban
pada bangsa Nashrani, antara lain: Persembahan missa seorang Kahin
berupa roti dan arak. Yang menurut keyakinan pada mereka hakekatnya,
roti dan arak yang mereka qurbankan ditukar dengan daging dan darah al-Masih.

9.
Qurban Pada Bangsa Arab Jahilliyah.


Bangsa Arab
Jahiliyah juga suka berqurban. Qurban mereka dipersembahkan untuk
berhala-berhala yang mereka sembah. Qurbannya ada binatang yang
disembelih untuk berhala, dan ada binatang yang dilepas bebas
berkeliaran, juga untuk berhala.

Cara qurban Arab Jahiliyah, yaitu
mereka jika menyembelih binatang qurban, seperti unta, mereka percikan
daging dan darahnya pada al-baet (ka'bah).

Arab Jahili jika mereka
menyembelih binatang, memercikan darahnya pada permukaan ka'bah, dan
memotong-motong dagingnya lalu mereka simpan di atas batu.

Selain
qurban yang disembelih, juga ada qurban Jahiliyah yang dilepas untuk
sembahan mereka, yaitu Bahîrah, sâibah, washîlah, hâm.

* Bahîrah, ialah unta
betina yang telah beranak lima kali, dibebaskan, tidak boleh di ganggu.
Jika anak yang kelima jantan, mereka sembelih dan boleh dimakan baik
oleh laki-laki atau perempuan. Jika Betina dibelah telinganya, dan hanya
dapat diambil manfaatnya oleh laki-laki, tidak boleh oleh wanita. Jika
betina itu mati, halal, baik bagi laki-laki atau wanita.

* Sâibah, yaitu unta
jantan yang dilepas tidak boleh diganggu karena dipakai nazar pada
Thaugut-thaugut mereka. Orang Arab Jahiliyyah jika mereka sakit atau
sesuatu yang hilang kembali lagi, mereka jadikan unta jantan saibah
ini sebagai qurban.

* Washîlah, ialah domba betina jika melahirkan
betina, mereka makan. Jika lahir jantan dipersembahkan buat Tuhan
mereka. Jika kembar, mereka tidak menyembelih yang jantan karena buat
Tuhan mereka.

* Hâm, ialah unta jantan yang telah dapat
membuntingkan unta betina 10 kali, tidak boleh diganggu-gugat lagi,
untuk Tuhan mereka.

Sembelihan Jahiliyyah itu terbagi tiga:

1.
Untuk mendekatkan diri kepada sesuatu yang dipuja. Sembelihan untuk
maksud ini dibakar, mereka ambil kulitnya saja, dan mereka berikan
kepada Kahin (dukun).

2. Untuk meminta ampun. Untuk
maksud ini, dibakar separuh, dan separuhnya lagi diberikan kepada kahin (dukun).

3.
Untuk memohon keselamatan. Untuk maksud ini mereka makan.



10.
Qurban Abdul Muthalib (Kakek Nabi SAW).





100 Ekor pengganti qurban Ayah Nabi.

Pada waktu Ayah Nabi, Abdullah bin Abdul Muthalib, belum dilahirkan.
Abdul Muthalib pernah bernazar kepada berhalanya, bahwa jika anaknya
laki-laki sudah ada sepuluh orang , maka salah seorang dari mereka akan
dijadikan qurban di muka berhala yang ada di sisi Ka'bah yang biasa di
puja oleh bangsawan Quraisy. Oleh sebab itu, setelah istri Abdul
Muthalib melahirkan anak laki-laki maka mereka itu genaplah sepuluh
orang.

Abdul Muthalib bermimpi pada suatu malam ada suara yang
memanggil, yang ia tidak mengerti maknanya, yaitu, Ihfir
Thayyibah!
, lalu pada malam kedua bermimpi lagi, Ihfir
Barrah!
, berikutnya bermimpi, Ihfir
Madhmûnah!
dan malam keempat suara dalam mimpinya yaitu, Ihfir
Zamzam!
. Setelah itu baru ia mengerti dan bermaksud untuk
melaksanakan mimpinya itu.

Sebelum pelaksanaan qurban itu, Abdul
Muthalib mengumpulkan semua anak laki-lakinya dan mengadakan undian.
Pada saat itu undian telah jatuh pada diri Abdullah. Padahal Abdullah
itu seorang anak yang paling muda, yang paling bagus rupanya, dan yang
paling dicintainya. Tetapi apa boleh buat, undian jatuh kepadanya, dan
Abdullah menurut saja apa yang menjadi kehendak ayahnya.

Seketika
tersiar kabar di seluruh kota Mekkah, bahwa Abdul Muthalib akan
mengurbankan anaknya yang paling muda. Namun ketika itu orang-orang
quraisy menolak dan menghalanginya. Hingga mereka mendatangi seorang al-'Arâfat yaitu
kahin di Yatsrib. Kahin Yatsrib menghukumi mereka supaya mengundi
antara Abdullah dengan unta. Bila keluar unta, maka sembelih unta. Jika
yang keluar Abdullah maka setiap kali keluar diganti dengan 10 ekor
unta. Lalu mereka kembali ke Makkah, dan melakukan undian antara
Abdullah dengan 10 ekor unta. Undian pertama keluar Abdullah, lalu
diganti dengan 10 ekor unta. Hal ini berulang sampai undian yang
kesembilan yang keluar Abdullah, baru yang kesepuluh keluar unta. Maka
Abdul Muthalib mengganti Abdullah dengan 100 ekor unta untuk berqurban.
Dan dengan demikian Abdullah urung untuk dijadikan qurban oleh ayahnya.

Dengan
adanya peristiwa itu. Maka Nabi SAW setelah beberapa tahun lamanya
menjadi rosul pernah bersabda,'Aku anak laki-laki dari dua orang yang di sembelih
"Ibnu Dzabihain"."




11. Qurban Nabi
Muhammad SAW.


Nabi Muhammad SAW melakukan qurban pada
waktu Haji Wada di Mina setelah solat Iedul Adha. Beliau menyembelih 100
ekor unta, 70 ekor di sembelih dengan tangannya sendiri dan 30 ekor di
sembelih oleh Sayyidina Ali Ra.

"Dan telah Kami jadikan untuk
kamu unta-unta itu sebahagian dari syi'ar Allah, kamu memperoleh
kebaikan yang banyak padanya, Maka sebutlah olehmu nama Allah ketika
kamu menyembelihnya dalam Keadaan berdiri (dan telah terikat). kemudian
apabila telah roboh (mati), Maka makanlah sebahagiannya dan beri
makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak
meminta-minta) dan orang yang meminta. Demikianlah Kami telah
menundukkan unta-unta itu kepada kamu, Mudah-mudahan kamu bersyukur."
(Al
Hajj:36).

Ayat ini menjelaskan binatang yang dijadikan qurban,
tujuan qurban, cara menyembelih hewan qurban, kapan memakan daging
qurban, siapa yang dapat memakan daging qurban. Binatang qurban, yaitu al-Budnu,
dalam bahasa ialah nama yang khusus bagi unta. Sedangkan sapi dipandang
sama menempati tempat unta dalam hukumnya karena Nabi Saw berkata, "Unta dijadikan dalam tujuh
(bentuk) dan sapi merupakan bagian dari ketujuh bentuk itu."


WaAllhu
A'lam bi showab.

Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

Arsip Blog

 

Copyright © 2010 • Gugel Ke 2 • Design by Dzignine